Bayangkan sebuah sambal yang warnanya benar-benar hitam pekat, dibungkus daun pisang, dan aromanya smoky menggoda. Itulah Cabuk Wijen—kuliner khas Wonogiri yang sering dijuluki "sambal wijen" atau "pepes hitam" karena tampilannya yang unik dan sama sekali berbeda dari sambal merah pada umumnya .
Nama "cabuk" merujuk pada wijen, bahan utamanya. Tapi jangan tertukar dengan Cabuk Rambak dari Solo—meskipun namanya mirip, keduanya sama sekali berbeda. Cabuk Rambak itu ketupat dengan saus wijen, sedangkan Cabuk Wijen Wonogiri ini lebih mirip pepes kecil berwarna hitam .
Yang menarik, cabuk ini bukan sambal yang bisa langsung dimakan. Ia dijual dalam bentuk setengah jadi, seperti tempe—pembeli harus memasak dan membumbuinya sendiri. Cara makannya pun khas: diambil sedikit, dicolek, lalu disantap bersama nasi putih panas atau nasi tiwul .
Salah satu rumah produksi cabuk tertua di Wonogiri berada di Dusun Pengkol RT 2 RW 1, Desa Pokoh Kidul, Kecamatan Wonogiri . Usaha ini dijalankan oleh Sarmin (75 tahun) , yang merupakan generasi kelima dari keluarga pembuat cabuk .
Menurut Sarmin, usaha keluarganya sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. Ia menyebutkan bahwa tradisi ini sudah dimulai dari "wareng" (generasi keenam ke atas dalam silsilah Jawa), dengan perkiraan awal tahun 1930-an .
💬 Komentar (0)